Clippy dan ‘The Chasm’

26Apr07

RIP ClippyMasih ingat Clippy? Di era office 2000 dulu, jika kita gunakan fasilitas help office 2000, akan muncul karakter kartun yg ‘mencoba’ dgn ramah membantu kita. Salah satunya (by default) ya si Clippy ini. Mereka adalah Office Assistant (OA), lebih dikenal sbg fitur MS Word mereka sebenarnya adalah fitur MS Office secara keseluruhan. Ternyata Microsoft menganggap OA tidak diperlukan lagi dan dipensiunkan dgn keluarnya Office XP. Baru baru ini Clippit dinobatkan sebagai salah satu “Lamest Technology Mascots Ever“oleh majalah teknologi Wired (www.wired.com). Bersama dgn dia, ada juga Tux-nya Linux dan Duke-nya Java. Verdict yg dibeirkan oleh wired adalah “Probably tested well in research”.

Ada istilah akademik untuk merujuk kepada makhluk-makhluk semacam Clippy, “Anthropomorphic Agent”. Pencarian dengan google scholar menggunakan kata kunci “anthropomorphic agent” memberikan saya 7000 lebih dokumen akademik. Kurang lebih 1000 diantaranya dipublikasikan antara tahun 1997-2000, tahun dimana fitur Office Assistant diintegrasikan ke produk MS Office. Chris Pratley, salah seorang perancang Office Assitant sendiri mengakui, di waktu itu, ketertarikan lingkungan akademik untuk membuat komputer lebih bersifat ’emosional’ agar mebuat pengguna tertarik untuk berinteraksi, kemudian belajar menggunakan, sedang tinggi-tingginya. Pratley juga mengakui, implementasi teori selalu harus berkompromi dengan faktor faktor lain, seperti waktu pengembangan dan release size (seingat saya, kita bisa menghemat 5-10 MB dengan memilih untuk tidak menginstall OA, 10 MB ditahun 1999 itu rasanya banyak sekali).

Sebagai sebuah bisnis, Microsoft tidak mungkin sembarangan dalam menambahkan fitur ke dalam produk mereka. Dalam hitungan bisnis software, Fitur sama dengan Biaya. Mengintegrasikan OA bukan keputusan sembarangan. Keputusan itu adalah hasil dari penelitian panjang, dan yang pasti makan biaya, dibidang User Experience (UX) dari ‘lab’nya Microsoft, Microsoft Research. Tapi tetap kenyataan bicara lain. Pengguna berpendapat OA tidak se-membantu yang pembuatnya harapkan, bahkan bisa dikatakan OA agak ‘distracting’. Dipensiunkanlah OA.

Buat saya pribadi, ‘kegagalan’ OA adalah manefestasi sebuah fenomena yang Geoffry A Moore sebut ‘chasm’, atau jurang pemisah. Suatu ide brilian yang tumbuh dari lingkungan akademik selalu harus menghadapi masalah penerimaan publik. Bukan penentangan publik yang jadi masalah, tapi meyakinkanbahwa teknologi baru tersebut memang benar-benar memiliki nilai guna.

Dititik inilah akademis, peneliti, atau inventor yang mau merubah ide mereka menjadi profit perlu berganti topi menjadi marketer atau tech. evangelist. Mereka harus meyakinkan publik calon pengguna, pemodal, pembuat kebijakan bahwa invensi mereka benar-benar berguna. Dibidang saya, software, sekarang ini rilis beta menjadi semacam mantra pemasaran. Sebenarnya ini adalah cara pelibatan publik calon pengguna terhadap suatu proses penciptaan. Diharapkan proses ini memperkecil ‘chasm’ itu sendiri kelak saat produk jadi di rilis.

Sebuah fitur (software) bisa saja sangat trivial dalam artian, tidak perlu usaha khusus untuk menjelaskan kepada publik pengguna bahwa “Fitur X memenuhi fungsi Y dalam hidup Anda” dalam iklan pemasarannya. Fitur itu sangat mendasar, sangat diperlukan, semua orang tahu akan hal itu. Jika kita mengembangkan software dgn fitur semacam ini, dan sukses, hukum ekonomi mengatakan, boleh dijamin, sehari sesudahnya, startup lain akan bermunculan menawarkan fitur yg sama. Oleh karena itu perlu riset dan penelitian untuk menelurkan produk yg benar-benar inovatif. Akan tetapi, riset cenderung menelurkan hasil yang terlalu akademik, memecahkan masalah yang terlalu spesifik. Di lingkungan saya, tak jarang seorang mahasiswa riset ditanya “Lantas apa kegunaan peneitian Anda?”. Dilema inilah yg harus dihadapi oleh setiap inventor.

Perusahaan seperti Microsoft tidak akan pernah mengalami kesulitan dalam urusan memperkecil chasm. Microsoft tidak hanya mapan, ia mampu menyetir pasar. ‘Kegagalan’ OA memang tidak bisa dijadikan contoh kegagalan Microsoft dalam urusan memperkecil chasm. Toh OA bukanlah produk utuh, melainkan satu fitur dari produk multifitur. Lain halnya jika kita bicara soal perusahaan baru (startup). Startup tidak akan punya banyak modal dan waktu untuk mengembangkan produk dgn fitur lengkap. Kadang (seperti Google misalnya) startup hanya dipersenjatai dengan hasil penelitian si pendirinya. Belajar dari OA, riset dan embuktian akademik saja tidak cukup terutama untuk orang-orang yg ingin mengubah inovasinya menjadi profit. Keahlian marketing, advokasi teknologi, dan kadang obsesi sangat diperlukan bagi orang-orang dalam kelompok ini agar produk mereka kelak tidak terjebak dalam ‘chasm’.

Pranala

Advertisements


One Response to “Clippy dan ‘The Chasm’”

  1. WOW just what I was searching for. Came here by searching for
    akademik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: