Hair affair

17Dec06

Ini macem-macem komentar temen-temen saya soal potongan rambut saya yang baru yang saya dapatkan di kedai gunting rambut Khrishnan, Bandar Universiti, yg dimiliki, dikelola dan dioperasikan oleh Khrisnan dkk.

Duma : “Kah! Duma punya gunting nih. Laen kali kalo mo cukur bilang-bilang dulu!”

Ari : [no comment, tapi nutup mulut pake dua tangan sambil terus ketawa-ketiwi ngga jelas selama sejam berikutnya]

Deddy : “Pral!!”

Ihtatho : “Kah, di ‘pala loe ada apaan tuh?”

Syekh : “Marinzi!! (Marines!!). [Diikuti dengan salam ala Sudan dan usapan kepala]

Zulfan : “Kah, gimana, dalam bahasa melayu, elo ngejelasin ma tukang cukurnya elo mo cukur ke’ gitu?”

Sedikit cerita. Ini bukan pertama saya punya potongan rambut ke’ gitu. Saya mulai berpotongan rambut ke’ gitu sejak jalan-jalan keluarga ke Magelang, Jawa Tengah, sekitar 2002. Waktu itu saya mikir “Dimana lagi bisa cukur cepak militer orisinal kalo bukan di kota tempat Akmil berada?”. Berbekal premis yang agak-agak ngga logis ini, berangkatlah saya malam itu untuk mencari tukang cukur, yang akhirnya saya temukan di dekat menara air (alun-alun). Dengan piawai bapak tukang cukur itu memangkas rambut saya. Ongkosnya murah, kalo ngga salah Rp 5000. Hasilnya? Saya merasa enjoy dengan potongan rambut ke’ gitu. Sejak itu rambut saya ngga pernah gondrong lagi, soalnya hemat.

Anda punya komentar?

Advertisements


No Responses Yet to “Hair affair”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: